OPUS
Di cafe yang sama, pada meja yang sama, memandang ke arah yang sama, dengan menu makanan dan minuman yang itu-itu juga, tapi tetap terasa sama jika di samping pria yang berbeda?
Ini seperti tirus waktu kala menghabiskan durasi semalam versi kita. Singkat, hanya tawa kecil yang tidak sempat imbangi ocehan dominanmu, atau cerita sakitmu yang tak perlu (sebenarnya) aku tau. Motorik ini selalu menarik kemari, ke meja panjang dengan tiga bangku tinggi yang tidak difavoritekan orang-orang. Terserah, aku menyukainya, sepanjang bertukar denganmu tentang ‘ada apa hari ini?’ dan ‘apa yang akan dilakukan esok hari?’.
Kadang juga kekanak-kanakan saat berebut Peach Ice Tea sebagai minuman favorite kita masing-masing. Yang paling pilu, kau kalahkan cepatku ketika pelayan sebut,
“Pesan apa untuk makanannya?”
“Fetuccini Mushroom”
Bahkan gelagat bibirku mampu kau tangkap, sedikit bahan candaan untuk memulai imajinasi malam itu. Sembari menerima pujian kilat atas wangi parfum aroma Manggis yang baru saja kau sesap.
“You smell good…” katamu. Dengan senang hati aku mengaku, tersipu.
Tapi sedetik kemudian backsound lagu Perancis paksa memoar terlempar ke beberapa bulan silam. Episode yang kau tak pernah tau, aku digiring mengingat masa lalu di Opus.
Masih terus menatapmu, padahal kaca-kaca di korneaku belum tentu setuju. Syaraf mielin otak terus rangkum mata gusar yang juga pernah terjadi di cafe ini, dengan eksemplar majalah Jakarta Java Kini yang ternyata juga kau raih.
“Apa kabar hari-harimu tanpa aku?” tanya laki-laki di Opus masa lalu. Aku terjebak ke enam bulan lalu di Opus.
“Ya begitulah, siku-siku. Tidak ada yang lurus, semua bersudut,” jelasku, sambil menikmati plot kala ia bermain dengan segelas vanilla latte-nya. Kupasang raut suntuk di hadapannya, padahal baru saja kuobrak-abrik Bandung untuk cari pengganti dirinya.
“Maaf. Aku menyesal, bisakah kita kembali seperti sedia kala?” ucapnya terlalu polos, bahkan untuk segala janji yang pernah ia ingkar.
Aku berfikir panjang di Opus. Ah, tapi ia tidak pernah mencintaiku dengan cara yang unik. Setengah tahun hanyalah penantian sebentar untuk setengah tahun hubungan yang dangkal. Tapi perjalanan kami panjang, mimpi kami luas. Seluas Sabang hingga Merauke, dan berbekas dari Bajo hingga Rote. Lagipula setidaknya, ia pernah meyakinkanku, yakin kalau ia akan jadi yang terakhir.
“I’m here in case your success. To say what you won’t, to do what you can’t, to see what you don’t…” aku kembali mengucapkannya, sudah kesekian ratus kali kalau aku bilang, aku luangkan segenap waktu untuk kesuksesannya.
“Jadi, bisakah kita kembali seperti sedia kala? Semuanya akan membaik,"
"Bisa…” pertanyaan yang kuiyakan, mulai hari itu, dan tidak pernah bahagia dengan keputusan itu hingga hari ini.
Aku berusaha kembali padamu, Opus kini. Pria berbeda di cafe yang sama, pria yang pertama kali kukenal di antara situasi serius hangatnya Jogja. Bagiku kau lebih dari sekedar zat adiktif, kadang memuakkan, kadang mematikan, kadang berimbas melayang-layang.
Opus kini, meskipun berbeda. Aku bersedia terima cerita tentang beberapa mantan pacarmu, yang kubarter dengan pengalamanku raih ujung Timur Laut Pulau Jawa (dengannya). Pernah juga sedikit berdebat, tentang kisah ‘selingkuh fisik’ yang kau sahkan. Aku selalu menikmati jumpa kita dengan cara yang salah, diintimidasi ruang yang sama saat bersikeras mempertahankan pria yang salah.
Laras (10.08.13)
Ada tiga jenis waktu yang disadur manusia semasa hidupnya. Waktu yang memancing untuk terus melihat ke belakang disebut ‘masa lalu’. Waktu yang menunggu di depan tergantung nasib dikenal sebagai 'masa depan’, dan waktu yang selalu bergerak tapi semu adalah 'mimpi’.
Apakah sumber kebahagiaan harus selalu negatif?
Benar orang-orang bilang bahwa Bali adalah Surga. Tapi lihatlah lombok, cantik seperti Kahyangan dan Flores lebih menakjubkan, sebuah Nirwana.
3 Unlimited Things
Pertengahan Agustus, saya belajar banyak dari perasaan mendalam ketika menulis kisah abadi Soekarno dan Inggit Garnasih. Kepiluan perempuan yang pernah berkorban hingga meninggalkan suami, lantas keterikatan cinta yang ia dapat tidak sejati. Dengan alasan yang memang mumpuni, Bung Karno meninggalkan Inggit dengan satu kalimat menyakitkan..
“Aku hendak menikahi Fatma, karena kita tak kunjung punya anak”
Dari situ pula saya baru paham kalau kesetiaan manusia sangatlah terbatas.
Ada pula cerita guyon datang dari seorang resepsionis maha cantik. Selayak umur 25 tahun, tapi terkaan salah ternyata usianya lebih muda 5 tahun. Setiap setengah 8 pagi ia siap gegap dengan full make up yang membuatnya getting old before her time, tak lupa bulu mata lima senti yang lemnya copot sekitar 15 menit sekali.
Cerita di lain hari, perempuan itu mungkin terlambat ke pasar, bangun kesiangan, atau perkakas full make up nya ketinggalan di toilet umum. Ia pun ke kantor tanpa make up, sekaligus memberi tahu saya bahwa untuk pertama kalinya ia melepas topengnya. Sungguh tidak cantik, tanpa make up ia tidak menarik. Dari situlah pula saya banyak berkaca bahwa kecantikan pun terbatas.
Kemudian saya berkawan dengan orang pandai berhitung sejak di bangku SMA. Ide-idenya cemerlang, jadi pemimpin di organisasi manapun lantas ditekuninya. Lima bahasa asing ia kuasai, bahkan ia jago melobby harga diri, hafal dengan erat nama-nama pemerintah yang pengecut. Disiplinnya tinggi, gila hormat dan dikelilingi wanita cantik. Tapi satu hal, ia gemetar ketika dipaksa menuliskan biografi hidupnya yang nyaris sempurna, entah mengapa hal itu mengajak saya berfikir bahwa kemampuan manusia memang terbatas.
Bicara soal pasangan, lumrah. Tidak ada monolog kacau, seorang teman pernah protes mengapa laki-laki tidur lebih lama? bangun lebih siang? atau bahkan susah dibangunkan padahal jarak ponsel dan telinga nya hanya satu jengkal.
Saya membela laki-laki dalam keadaan ini. Laki-laki menempuh jarak perjalanan 2x lipat dari perempuan, mereka menjemput, kemudian mengembalikan pasangannya pulang sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah. Laki-laki harus berkendara, sedangkan perempuan duduk manis saja, yang paling nyentrik, laki-laki juga harus begadang nonton bola. Tapi point nya bukan disitu, sebenarnya kaum adam sudah menghabiskan waktu untuk menunggu perempumpuannya berdandan, pergi ke salon atau bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk pilih sehelai baju.
Singkat cerita, itu kesabaran yang luar biasa. Namun pernahkah bertengkar kemudian mereka menurunkan kalian (perempuan) di tengah jalan? Kalau pernah, tolong dimengerti kalau kesabaran itu ternyata benar-benar terbatas.
Lantas apa yang tidak terbatas?
Saya ingat pernah baca satu bait puisi Remy Silado
“karena manusia suka menyingkat salam menjadi "wr.wb”, maka rejekinya pun sering disingkat pula oleh Tuhan"
Tuhan hanya menyingkat bukan? Ia tidak melenyapkan. Bangun tidur itu sepantasnya dikatakan berkah terhebat, karena Tuhan masih membuatmu tidur lelap dan tetap membangunkanmu, dalam keadaan senyap.
Makanan enak, rejeki yang tidak putus, sahabat terbaik yang pernah ada, cinta yang datang dan pergi, karir terjaga, apa lagi? Saya banyak menyadari bahwa inilah hal pertama yang hanya bisa didefiniiskan oleh kata “tidak terbatas”, yakni Berkah Tuhan.
Kedua, ada dua orang yang pernah membisikan cinta ketika baru saja kau lahir di dunia. Mereka tetap membisikan cinta sepanjang hayat hingga tibalah saatnya mereka tutup usia. Siapa? Pastinya kedua orang tua. Saya selalu terenyuh mengingat hal “tidak terbatas” yang kedua, Kasih Sayang Orang Tua.
Selama satu tahun, pekerjaan yang terindah adalah mencari titik-titik destinasi tercantik dari negeri ini. Selama itu pula bahan tulisan tidak pernah habis. Bahkan ketika harus merangkum surga tersembunyi dari ke-34 provinsi, ini membuat saya berfikir bahwa berwisata ke luar negeri adalah senyawa untuk menghianati Tanah Air sendiri.
Hal “tidak terbatas” yang ketiga datang dari Kecantikan Alam Indonesia. Sejatinya, negara saya sangat kaya akan dekorasi alam yang luar biasa. Hingga ketika turis bertanya..
“Apa saja tempat cantik yang saya bisa kunjungi di negaramu?”
ah, pastinya saya akan jawab…
Banyak sekali, tidak terbatas.
____Ananda Putri Laras (20/02)
Before the Spring – Australian actress Alice Englert looks girly yet refined in the January-February issue of Flaunt Magazine. Photographed by Zoey Grossman and styled by Leila Baboi, the brunette poses in resort looks from the likes of Chanel, Louis Vuitton, Dior and Gucci in a wallpapered room.
4 Pria, 4 Karakter
Anggap saja aku lupa nama, padahal hanya berpura-pura. Aku janji tidak makan junkfood hingga hari ini, kecuali gratis. Juga mampir berkali-kali ke departement store, kecuali karena voucher.
Siapa pasanganmu? Sudah ucapkan selamat pagi dan selamat makan siang sekarang? Kalau sudah, itu tolol, ini kan sudah malam. Hubungi dia, bantu untuk lafalkan doa sebelum tidur, sebelum hal semanis itu dilakukan oleh orang lain.
Siapa pasanganmu? Dia orang keberapa yang mendengar khayalan-khayalan pernikahanmu? Juga tentang bayi di masa depan, padahal kalian sering mencoba untuk membuat bayi, bukan?
Di sepanjang Jembatan Randu, jembatan yang aku beri nama asal. Aku bertemu empat pria dengan empat karakter berbeda. Dua diantaranya bersuara bariton, yang satunya tenor, sisanya tidak terspesifikasi, karena sedang batuk.
Pernah terguyur hujan selama lebih dari 24 jam? Pria pertama mengalaminya, ia bersanding di depan gerbang jembatan. Sebut saja namanya Jean Reno, berkacamata dan berambut tipis. Ia alergi pada debu dan wanita hamil, entah, tapi lebih baik jangan diambil hati, ia memang aneh. Hafal seluruh girlband korea dan rumus matematika. Lantas, mengapa ia bilang terguyur hujan lebih dari 24 jam?
“Karena aku sediakan 25 jam dalam sehari, untukmu”, katanya.
Ah so sweet Jean Reno, ayo kita main congklak!
“Tidak mau, aku bukan perempuan! aku tidak bisa main congklak!”
Jangankan bermain congklak, laki-laki yang siap sedia 25 jam sehari bahkan mau diajak mencuri.
“Kalau begitu ajak saja aku mencuri, kita curi emas di bank. Aku pandai berhitung, aku juara umum pada olimpiade sains lima tahun yang lalu”
Baiklah, nanti aku pikirkan! Jean Reno masuk tempat sampah bagian mana? bottle, paper, atau cube?
Setelah direnungkan, ia tidak bisa didaur ulang, bakar saja.
bersambung….
___Ananda Putri Laras
Schindler's List (1993)
- Oskar Schindler: In every business I tried, I can see now, it wasn't me that failed. Something was missing. Even if I'd known what it was, there's nothing I could have done about it because you can't create this thing. And it makes all the difference in the world between success and failure.
- Emilie Schindler: Luck?
- [Schindler kisses his wife's hand and smiles]
- Oskar Schindler: War.

Jeffrey Campbell - Why Yes
If Only, Andai Saja dan Bagaimana Jika…
- Bagaimana jika manusia makan pisang tanpa melepas kulitnya? Bagaimana jika manusia bahkan lebih tolol daripada monyet?
- Bagaimana jika Indonesia tidak punya garis pantai 1cm pun? Bagaimana jika turis tidak pernah tau dimana mereka harus berjemur mencoklatkan kulitnya? Apa kita panggang saja?
- Bagaimana jika film 5cm tidak pernah dibuat? Bagaimana jika Gunung Semeru tetap jadi tempat sakral dan tidak pernah mainstream? Lantas mereka yang tahu Ranupane-Ranukumbolo-Arcopodo dan Kalimati hanyalah orang-orang terpilih.
- Bagaimana jika agama tidak pernah ada? Lantas Lady Gaga tetap konser di Indonesia.
- Bagaimana jika tidak pernah diciptakan mesin fotokopi? Bagaimana jika tidak pernah ada mesin printer? Bagaimana jika manusia tidak tau cara mengeringkan air mata ketika menangis mengerjakan skripsi?
- Bagaimana jika Google hanyalah angan-angan belaka? Bagaimana jika literasi media hanya sebuah sampah dari kurikulum mata kuliah yang nyata?
- Bagaimana jika tidak ada satupun partai oposisi? Bagaimana jika etika politik benar-benar dihormati? Bagaimana jika bendera Indonesia tidak pernah digambarkan pada atlas dunia? Bagaimana jika Justin Bieber tetap mengklaim Indonesia sebagai ‘Negeri Antah Berantah’?
- Bagaimana jika alien benar-benar ada dan pernah mampir ke bumi? Bagaimana jika ternyata alien membuat restoran cepat saji semacam KFC di Bumi namun tidak kasat mata?
- Bagaimana jika Hitler jatuh cinta pada wanita Yahudi? Kemudian ia sudah rencanakan selama 50 tahun ke depan beragam propaganda agar terjadi belas kasih untuk kaum Yahudi. Bagaimana jika ternyata Yahudi adil dan Palestina serakah? Bagaimana jika seluruh dunia tertipu oleh tayangan televisi?
- Bagaimana jika suatu saat teknologi yang super maju menciptakan mobil terbang? kemudian rumah sakit tertiba didatangkan pasien burung-burung yang koma karena kecelakaan.
- Bagaimana jika franchise Seven Eleven tidak hadir di Indonesia? Bagaimana jika manusia terpaksa makan mie instan dan minum kopi di rumah saja? Bagaimana jika warung kopi tradisional adalah suatu hal yang pop, kemudian perempuan bermakeup tebal dan bersepatu heels ketagihan makan semangkuk bubur kacang ijo.
- Bagaimana jika semua makanan dan minuman yang haram adalah halal, dan yang halal ternyata haram?
- Bagaimana jika orang jujur hanya ada di dalam cerita nabi? Bagaimana jika berbohong itu dibenarkan?
- Bagaimana jika semua orang-orang tercinta tidak bisa lagi disentuh? Bagaimana jika terlambat menyesal kalau malam lalu sudah selingkuh? Bagaimana jika tidak ada kata 'maaf’? Bagaimana jika tidak berlaku kata 'lupakan’? Bagaimana jika setiap manusia yang bunuh diri tidak bisa mati?
____Ananda Putri Laras (09/01)
Maria Full of Grace (2004)
- María Álvarez: What is America like?
- Lucy Díaz: Over there... it's too perfect. Everything's straight.




